Penyakit Jantung dan Pembuluh (PJP) / penyakit kardiovaskuler adalah peyakit pembunuh nomor 1 di negara2 maju dan bahkan di Indonesia. Ini berkaitan dengan gaya hidup (antara lain: pola makan dan kurang olah raga). Beberapa penyakit yang masuk dalam kategori ini adalah: hipertensi, atherosklerosis (pengerasan pembuluh darah), dyslipidemia (kadar lemak yang tidak sesuai), gagal jantung, jantung koroner, hingga stroke.
Minyak ikan dengan kandungan asam lemak golongan omega 3 PUFA (poly unsaturated fatty acid) telah banyak digunakan untuk keperluan pengobatan dan pencegahan PJP, sebagai terapi kombinasi dengan terapi obat berefek farmakologis tertentu. Dua jenis asam lemak yang termasuk dalam golongan omega 3 PUFA adalah eicosapentaenoic acid (EPA)dan docosahexaenoic acid (DHA). EPA dan DHA dapat diperoleh
dengan mengkonsumsi beberapa jenis ikan seperti: salmon, tuna, dan makarel. Kandungan tertinggi adalah pada ikan salmon. Jika kita kesulitan mendapatkan ikan2 tersebut, maka kita bisa mengkonsumsinya dalam bentuk suplemen minyak ikan.
Lalu bagaimana dengan landasan ilmiahnya ?
Journal of the American College of Cardiology memuat artikel dalam bentuk review yang berjudul Omega-3 Polyunsaturated Fatty Acids and Cardiovascular Diseases (J Am Coll Cardiol 2009;54:585–94). Artikel ini mereview penelitian2 sebelumnya terkait dengan minyak ikan dan PJP, baik penelitian retrospektif maupun 4 large randomised controlled trial (RCT) yang melibatkan sekitar 40.000 partisipan, selama periode waktu 1944-2008. Tidak salah jika review ini masuk dalam kategori "state of the art" paper.
Hasilnya:
Dari review ekstensif terhadap penelitian2 yang ada, terbukti bahwa minyak ikan memberikan benefit terhadap pengobatan dan pencegahan PJP. Dari hasil ini, American Heart Association mengeluarkan rekomendasi sebagai berikut:
Konsumsi EPA dan DHA paling tidak 500 mg/hari untuk seseorang yang belum terkena PJP (pencegahan) dan 800 - 1000 mg/hari untuk individu yang terkena jantung koroner dan gagal jantung. Untuk seorang dengan kadar trigliserida di atas normal, direkomendasikan dosisnya hingga 4 g/hari.
Yang menarik, di jurnal tersebut juga ditampilkan kandungan EPA dan DHA dari beberapa jenis seafood (tuna, salmon, makarel, dan udang).
Terkait dengan efek samping minyak ikan, di jurnal ini disebutkan adalah mual, gastrointestinal upset, dan "fishy" burp (bersendawa yang berbau amis). Hal lain yang menjadi pembahasan masalah keamanan, adalah terkontaminasinya ikan2 tersebut dengan merkuri. Namun, fakta bahwa merkuri adalah senyawa yang larut dalam air, maka keberadaannya dalam minyak ikan dapat diabaikan.
Untuk yang berminat mempelajari lebih lanjut, berikut referensinya:
- Lavie, CJ, et al, Omega-3 Polyunsaturated Fatty Acids and Cardiovascular Diseases, J Am Coll Cardiol 2009;54:585–94 (Review Article)
- Fryhofer, SA, A Fish Tale That You Can Believe: Omega-3 Fatty Acids and Their Benefits, available at here (Podcast from Medscape)
Seoga bermanfaat....
SALAM.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment